bila hatimu bicara BK memahaminya

PENGANTAR

LAMA KULIAH
Perkuliahan diselenggarakan dengan Sistem Kredit Semester (SKS) selama 8 semester. Mahasiswa yang unggul dapat menyelesaikan kurang dari waktu tersebut, sedangkan mahasiswa yang memerlukan waktu tambahan dapat menempuh kuliah maksimal 14 semester. Mahasiswa wajib mengikuti minimal 80% tatap muka dari 14-18 minggu pertemuan agar bisa mengikuti Ujian Akhir Semester. Diakhir program mahasiswa menyusun skripsi guna meraih gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

FASILITAS
Tersedia ruang kuliah, perpustakaan, laboratorium yang terdiri dari lab.Kimia, lab.Biologi, lab.Fisika, lab.Komputer; dan ruang multimedia. Ruang perkuliahan yang representative untuk belajar dilengkapi dengan kipas angin dan OHP, merupakan bagian dari ruang kuliah FKIP dalam lingkungan yang asri. Perpustakaan memiliki berbagai macam koleksi buku yang terdiri buku bidang kependidikan serta jurnal-jurnal ilmah.

BEASISWA & KEMAHASISWAAN
Mahasiswa yang berprestasi dapat memperoleh beasiswa yang ditawarkan oleh berbagai sumber seperti beasiswa Supersemar, Peningkatan Prestasi Akademik (PPA), dan lain-lain.
Pengembangan kreatifitas dan minat kemahasiswaan

KURIKULUM
Kurikulum yang berlaku adalah kurikulum 2008 yang dirancang dapat mengakomodir kebutuhan untuk menghasilkan tenaga pengajar dalam era Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Kurikulum tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan zaman serta diselaraskan dengan letak geografis dan ekonomis daerah.

LAPANGAN PEKERJAAN
Lulusan Program Strata Satu (S1) Kependidikan dapat diserap oleh pasar kerja sebagai guru dalam lingkungan DIKNAS maupun DEPAG baik berstatus PNS maupun guru bantu, guru bakti dan lain-lain.

PENDAFTARAN
1.Pelamar : lulusan SMA, SMK dan MA Tahun 2009, 2010, dan 2011 dengan syarat: Salinan ijazah yang dilegalisir untuk lulusan 2009-2010; 1 lembar, Salinan SKHU/SKL untuk lulusan 2011, Pendaftaran tidak boleh diwakilkan
2.Syarat lainnya: a) Foto hitam putih/berwarna ukuran 3X4 sebanyak 3 lembar, b) Membayar biaya pendaftaran sebesar Rp. 300.000,-
3.Tempat pendaftaran di Program Studi Bimbingan dan Konseling Kampus FKIP II, Hp. 085754113217
4.Registrasi/Daftar Ulang
a.Besar SPP Rp 1.750.000,- / Per Semester
b.Uang Pengembangan minimal Rp 8.000.000,-
c.Pembayaran tidak bisa diangsur

5.Jadwal Kegiatan:
No Kegiatan Waktu
1 Pendaftaran 12 Juli – 03 Agustus 2011
2 Tes Akademik 08 Agustus 2011
3 Tes Wawancara / Buta Warna 09 Agustus 2011
4 Pengumuman Kelulusan 11 Agustus 2011
5 Tes NAPZA 11 – 16 Agustus 2011
6 Registrasi 16 – 20 Agustus 2011
7 Program Persiapan Belajar 06 – 07 September 2011
9 Awal Perkuliah 08 September 2011


Tujuan helping relationship atau hubungan konseling adalah untuk dapat memenuhi kebutuhan helpe (konseli) dan bukan untuk memenuhi kebutuhan konselor (helper). Secara luas dikatakan bahwa klien harus dapat mempunyai tanggung jawab mengenai dirinya, dan membuat keputusan berdasarkan alternative-alternatif yang dia tentukan atas bantuan konselor. Untuk mencapai tujuan yang baik tersebut, maka dalam hubungan konseling harus terjadi rapport antara konseli dan konselor.

Rapport adalah suatu hubungan (relationship) yang ditandai dengan keharmonisan, kesesuaian, kecocokan, dan saling tarik menarik. Rapport  dimulai dengan persetujuan, kesejajaran, kesukaan, dan persamaan. Jika sudah terjadi persetujuan dan rasa persamaan, timbullah kesukaan terhadap satu sama lain.

Didalam kehidupan sehari-hari ada dua cara kita melihat orang lain. Pertama, melihat dari perbedaan. Cara melihat ini diwarnai oleh perasaan egoesenterisme yakni melihat orang lain dari kelemahannya, kesalahannya, atau keburukannya. Dan menganggap diri sendiri adalah yang serba hebat, pandai, terhormat, mulia dan sebagainya. Akibatnya orang ini hanya melihat perbedaan, sehingga menjurus kepada individualistik. Kedua , memandang orang lain dari segi  persamaan. pandangan ini malhirkan sikap ingin berbagi (sharing) dengan orang lain. Dan orang itu dianggap saudara. Islam mengajarkan bahwa “Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah perselisihan diantara saudara-saudaramu” (Q.S.Al-Hujarat:100).

Jika anda menekunkan pada perbedaan, maka anda akan sulit mencapai rapport. Sebaliknya jika anda menekankan pada pandangan persamaan dan rasa bebagi maka sikap resisten dan berlawanan akan hilang. Jika sikap dan persamaan ini tumbuh maka terjadilah rapport.

Sebagai manusia, kita harus kuat dalam mengembangkan sikap berbagi dengan sesama. Kita merasakan bahwa pada diri kita ada hak-hak orang lain, dan pada orang lain juga da hak-hak oran lain lagi. Jadi akan muncul rasa kebersamaan dan semangat tolong menolong. Ibaratnya kita membangun suatu bangunan besar, maka kita harus saling tolong menolong.

Didalam konseling, seorang konselor harus mampu menciptakan rapport. Bagaimana caranya ?

(1)            Pribadi konselor harus empati, merasakan apa yang dirasakan klliennya. Dia juga harus terbuka, menerima tanpa syarat, dan mempunyai rasa hormat dan menghargai.

(2)            Konselor harus mamu membaca perilaku nonverbal klien. Terutama yang berhubungan dengan bahasa lisannya.

(3)            Adanya rasa kebersamaan , intim, akrab, dan minat membantu tanpa pamrih. Artinya ada keikhlasan, kerelaan, dan kejujuran pada diri konselor.

  1. Dictionary of Education (1973); Guidance is (1) the process of assisting an individual to understand himself and the world around him, and to again knowledge of implications of this understanding for educational progress, career development, and personality fulfillment; (2) a form of systematic assistance to students or orther to help them to asses their abilities and liabilities, and to use that information effectively in daily living.
  2. Jones (1970): Guidance is the assistance given to individuals in making intelligent choices and adjustments in their lives. The ability to make wise choices is not innate; it must be developed. The fundamental purpose of guidance is to develop in each individual, up to the limit of his capacity, the ability to solve his own problems and the to make his own adjustments.
  3. Milner (1974): A broad definition of guidance. . . is the presentation of knownledge, information and/ or advice to individuals or groups in a structured way so as to provide sufficient material upon which they may base choices or decisions.
  4. Crow and Crow (1961): Guidance is assistance made available by personally qualified and adequately trained men or women to an individual of any age to help him manage his own life activities, develop his own points of view, make his own decisions, and carry his own burdens.
  5. Hennesy (1966): Guindace is the process of aiding the development of each individual by assisting him to make his own plans and decisions, consonant with his own unique potentialities as they relate to the requirements and opportunities of the society in which he lives, and accordance with moral, social and spiritual values.
  6. Shertzer-Stone (1976, 1981): Guidance is the process of helping individuals to understand themselves and their world.
  7. Schmidt (1993): Guindance is a term used to describe a curriculum area related to affative or psychological education.
  8. Moegiadi (1970): Bimbingan dapat berarti (1) suatu usaha untuk melengkapi individu dengan pengetahuan, pengalaman dan informasi tentang dirinya sendiri; (2) suatu cara pemberian pertolongan atau bantuan kepada individu untuk memahami dan mempergunakan secara efisien dan efektif segala kesempatan yang dimiliki untuk perkembangan pribadinya; (3)Sejenis pelayanan kepada individu-individu, agar mereka dapat menentukan pilihan, menetapkan tujuan dengan tepat dan menyusun rencana realistis, sehingga mereka dapat menyesuaikan diri dengan memuaskan di dalam lingkungan dimana mereka hidup; (4) suatu proses pemberian bantuan atau pertolongan kepada individu dalam hal: memahami diri sendiri; menghubungkan pemahaman tentang dirinya sendiri dengan lingkungan: memilih, menentukan dan menyusun rencana sesuai dengan konsep dirinya sendiri dan tuntutan dari lingkungan.
  9. Rachman Natawidjaja (1981): Bimbingan adalah proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu tersebut dapat memahami dirinya, sehingga ia sanggup mengarahkan diri dan dapat bertindak wajar, sesuai dengan tuntuntan dan keadaan keluarga serta masyarakat. Dengan demikian dia dapat mengecap kebahagian hidupnya serta dapat memberikan sumbangan yang berarti.

Sumber :Bimbingan dan Konseling, karya W.S. Winkel dan M.M. Sri Hastuti, Media Abadi, 2004 hal 28-29

Dr. H. Karyono Ibnu Ahmad

Jabatan : Ketua Program Studi Bimbingan Konseling

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ali Rachman, M.Pd

Sekretaris Program Studi Bimbingan Konseling

 

 

 

 

 

 

Sulistiyana, S.Pd

Bendahara Program Studi Bimbingan Konseling

 

 

 

 

 

 

 


Nina Permatasari, S.Psi, M.Pd

Kepala Lab. Bimbingan Konseling

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Drs. H. A. Laduni Sattar, MS

Dosen Progam Studi Bimbingan Konseling

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Ririanti Rachmayanie J, S.Psi, M.Pd

Dosen Progam Studi Bimbingan Konseling


Kehadiran Bimbingan dan konseling di sekolah dapat dikatakan sebagai gerakan pendidikan di Indonesia. Bimbingan sering disebut sebagai kekuatan ketiga di dunia pendidikan (Munandir, 1989). Secara yuridis keberadaan guru pembimbing/konselor dalam sistem pendidikan nasional dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru, dosen, pamong belajar, tutor, widyaiswara, fasilitator dan instruktur  (UU No. 20/2003, pasal 1 ayat 6).

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidkan (KTSP), kehadiran bimbingan dan konseling telah memberi pengembangan matra afektif dalam belajar, yaitu pengembangan sikap, nilai dan kepribadian, sehingga telah menciptakan kondisi emosional dalam diri peserta didik, yang akan mendukung bagi keberhasilan belajar (prestasi belajar/NEM) mereka. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Sunaryo Kartadinata (2003) bahwa fokus kegiatan pendidikan tidak lagi terletak sebatas kegiatan mengajar dengan mengutamakan peranan guru, melainkan dengan sengaja dan terencana melibatkan berbagai profesi pendidik, termasuk guru pembimbing/konselor, untuk menangani ragam aspek perkembangan dimensi belajar, dengan menggunakan pola relasi dan transaksi yang beragam pula. Salah satu peran pendidik dalam hal ini di sekolah adalah guru pembimbing yang diharapkan dapat membantu berbagai aspek terutama permasalahan siswa yang berkaitan dengan aspek pengembangan diri siswa tersebut. Sehingga eksistensi bimbingan di sekolah sangat mendukung dan sangat memberi arti terhadap efektivitas dan efisiensi pelaksanaan pendidikan secara keseluruhan.

Untuk mengemban misi tersebut, diperlukan lembaga penyelenggara pendidikan yang menghasilkan sarjana pendidikan dengan memiliki keahlian sebagai tenaga pendidik khususnya dalam bidang bimbingan dan konseling, dalam hal ini disebut Guru Pembimbing/Konselor, dengan landasan yuridis merujuk pada pasal 1 ayat (6) UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu konselor sebagai salah satu sebutan untuk Pendidik dan Pasal 39 ayat (2) dalam UU nomor 20 tahun 2003 yang menyatakan bahwa “Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama pendidik pada perguruan tinggi”,

Selanjutnya, PP nomor 19 tahun 2005 pasal 28  tentang Standar Nasional Pendidikan serta Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi yang memuat pengembangan diri dalam struktur kurikulum, dibimbing oleh guru pembimbing/konselor, dan guru/tenaga kependidikan yang disebut pembina. Dasar Standarisasi Profesi Konseling (DSPK) oleh Ditjen Dikti Tahun 2004 tentang arah profesi konseling di sekolah dan luar sekolah, serta Permendiknas No. 23/2006  tentang Standar  Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik, dalam hal ini kompetensi peserta didik yang dikembangkan melalui pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah adalah kompetensi kemandirian untuk mewujudkan diri (self actualization) dan pengembangan kapasitasnya (capacity development) yang dapat mendukung pencapaian kompetensi lulusan.

Sebagaimana diketahui, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak kelemahan-kelemahan dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah, diantaranya adalah masih banyak tenaga pelaksana tidak berpendidikan khusus latar belakang bimbingan dan konseling (mereka kebanyakan guru bidang studi yang ditunjuk karena adanya ketentuan bahwa di sekolah harus ada bimbingan dan konseling); kalau ada petugas bimbingan dan konseling, mereka hanya berpendidikan jenjang sarjana muda atau diploma, atau ada petugas khusus berlatar belakang bimbingan dan konseling tetapi jumlah mereka kurang dibandingkan dengan jumlah siswa yang harus dilayani, serta kadang-kadang mereka juga harus merangkap tugas mengajar, berdasarkan data sebagaimana yang dikemukakan Direktur Tenaga Kependidikan (Surya Dharma, 2008) di Indonesia saat ini ada 23,5 % guru pembimbing belum S1 dan 38,4% tidak berlatar belakang Bimbingan dan Konseling dan lebih lanjut dikemukakan oleh Surya Dharma (2008) melalui rapat konsorsium sertifikasi guru dan berbagai masukan dari lapangan, diketahui banyak guru (terutama kepala sekolah) yang “mendadak” menjadi guru Bimbingan dan Konseling padahal tidak memiliki latar belakang pendidikan Bimbingan dan Konseling dan Guru Bimbingan dan Konseling tersebut disinyalir belum memiliki bekal pengetahuan dan kemampuan yang memadai tentang ke-B&K-an

Melihat kondisi seperti di atas, maka aktualisasi bimbingan dan konseling sangat dibutuhkan. Aktualisasi bimbingan di sekolah menuntut persyaratan khusus dalam operasinya, yaitu kemampuan profesional tenaga guru pembimbing/konselor. Untuk memperoleh guru pembimbing/konselor yang benar-benar profesional perlu persiapan yang matang. BK FKIP Unlam sebagai salah satu PTN yang ada di Kalimatan Selatan tentunya memiliki peran dan tanggung jawab dalam pengembangan tenaga kependidikan di wilayah Kalimantan Selatan, khususnya untuk melahirkan tenaga BK yang profesional.

Program Bimbingan dan Konseling FKIP Unlam, dalam rangka berperan serta pada  pengembangan tenaga pendidikan dan tenaga kependidikan, keberadaan BK FKIP Unlam di awali pada tahun 1967, waktu itu IKIP Bandung cabang Banjarmasin membuka jurusan Bimbingan dan Penyuluhan, Pendidikan, Pendidikan Luar Sekolah dan Administrasi Pendidikan. Pembukaan jurusan-jurusan tersebut tergabung dalam satu fakultas yaitu Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) untuk memenuhi kekurangan tenaga pengajar (guru pembimbing) yang berlatar belakang bimbingan dan konseling, baik dari Dinas Pendidikan maupun dari Kanwil Departemen Agama Propinsi Kalimantan Selatan. Pada tahun 1979, S1 Bimbingan dan Penyuluhan kemudian tergabung dalam Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat (UNLAM), sehingga menjadi Program Studi Bimbingan dan Konseling Sekolah, dan pada sekitar tahun 1980 Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) digabung menjadi satu dengan Fakultas Keguruan (FKG) dengan nama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Sejak saat itu FKIP UNLAM telah meluluskan beberapa alumni yang tersebar di seluruh Kalimantaan Selatan bahkan ada yang bertugas di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Lulusan  program studi BKS mendapatkan pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil (diangkat sebagai PNS/guru pembimbing) di berbagai sekolah di lingkungan Depdiknas dan Depag Propinsi Kalimantan Selatan dan ada juga yang diterima pada berbagai instansi di luar Depdiknas dan Depag, misalnya di BKKBN, DEPSOS, DEPPEN.

VISI

Program Studi Bimbingan dan konseling FKIP UNLAM  mempunyai visi yaitu terwujudnya Program Studi Bimbingan dan Konseling sebagai institusi pengembang ilmu konseling yang memiliki kemandirian (otonom), kredibilitas dan akuntabilitas yang mampu mencetak lulusan yang berkualitas, profesional, berwawasan global, memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif, trampil menggunakan tehnologi komunikasi informasi terutama di bidang bimbingan dan konseling,  dapat menyesuaikan diri dengan berbagai situasi, perubahan dan budaya serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

MISI

Misi Program Studi Bimbingan dan Konseling FKIP Unlam, antara lain :

  1. Mengembangkan Ilmu Bimbingan dan konseling untuk memberi dasar dan arah perkembangan program studi bimbingan dan konseling
  2. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan Program Studi Bimbingan dan konseling, sehingga mampu menghasilkan lulusan yang bermutu sesuai dengan tuntutan lapangan kerja dan mampu memberikan pelayanan yang optimal kepada peserta didik dan di masyarakat.
  3. Meningkatkan budaya kerja, etos kerja dan etos belajar bagi dosen, karyawan dan mahasiswa serta meningkatkan sinergitas antar civitas akademika sebagai modal dalam menciptakan lingkungan kampus yang kondusif.
  4. Meningkatkan eksistensi Program Studi Bimbingan dan konseling melalui peningkatan kualitas pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat serta mengembangkan kemitraan dengan institusi/organisasi lain
  5. Mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas didasari oleh iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki ketrampilan penguasaan tehnologi informasi, berwawasan kewirausahaan dan marketable untuk pasar kerja lokal dan global serta mampu menciptakan lapangan kerja sendiri.

Tujuan Program Studi S1 Bimbingan dan konseling:

Program Studi S1 Bimbingan dan konseling bertujuan untuk :

  1. Menghasilkan sarjana yang memiliki wawasan, pengetahuan, ketrampilan, nilai-nilai, dan sikap dalam pelayanan bimbingan dan konseling dalam latar sekolah.
  2. Menghasilkan sarjana yang peka dan bertanggung jawab terhadap nilai-nilai agama, sosial dan budaya dalam pelayanan bimbingan dan konseling
  3. Menghasilkan sarjana yang mengenal, memahami, menghayati dan mengamalkan kode etik profesi bimbingan dan konseling
  4. Menghasilkan sarjana yang mampu melaksanakan penelitian ilmiah dalam bidang bimbingan dan konseling
  5. Menghasilkan sarjana bimbingan dan konseling yang profesional
  6. Menghasilkan sarjana bimbingan dan konseling yang memiliki ketrampilan penguasaan informasi dan teknologi komunikasi (information and communication tehnologi/ICT) terutama dalam layanan bimbingan dan konseling

Tenaga Pengajar di Program Studi Bimbingan Konseling FKIP Universitas Lambung Mangkurat adalah

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: